0 comments

KISAH PAK BADAK DAN BERUANG


foto : wikipedia
       Ketika musim bertelur tiba, ikan-ikan salmon berenang menentang arus sungai. Mereka punya indra yang tajam sehingga tahu dimana harus meletakkan telurnya. Meskipun aliran air cukup deras namun demi perjuangan melahirkan generasi baru maka perjuangan hidup yang keras tetap dijalani dan dilakukannya. Mereka berjuang mempertaruhkan nyawanya. Bagi ikan salmon yang kehabisan tenaga di jalan maka tubuhnya langsung terseret air sungai dan mati lemas. Dan bagi mereka yang memiliki tenaga kuat akan bisa mencapai sumber air dimana mereka bisa meletakkan telurnya.
          Pemandangan berenangnya beratus-ratus ikan salmon di sungai ternyata menarik perhatian si Beruang. Ia senang memperhatikan cara ikan salmon berenang. Namun, diam-diam ada niatan beruang untuk menceburkan diri ke dalam sungai untuk menangkapi mereka. "Kalau bisa aku kumpulkan tentu aku tidak usah susah-susah mencari makanan lagi karena cadangan makananku sangat banyak, " demikian pikir beruang.
          Tiba-tiba....byuuuurrrrr.....si beruang menceburkan diri ke dalam air sungai. Ia berusaha menangkapi ikan-ikan salmon tersebut. Tapi, berkali-kali ia berusaha menangkapi ikan salmon ternyata ikan salmon tersebut bisa melepaskan diri. Tubuh si salmon ternyata licin.. Si beruang mencoba menangkapi lagi, namun belum berhasil juga. Gagal dan gagal lagi usahanya. Akhirnya, dia merasa kecewa. Tenaganya semakin menurun. Perutnya terasa lapar. Lalu ia keluar dari air sungai dengan perasaan kecewa. Rasanya dia mau menangis. Dan, di bawah pohon dia menyandarkan tubuhnya sambil merasakan perutnya lapar.
          "Huh ! Sialan betul ternyata si salmon sulit dipegang," gerutu si beruang. "Malu aku memiliki tubuh besar namun tidak bisa menangkapi hewan sekecil salmon. Huuu..huuu...huuuu." kata si beruang mulai menangis.
           Dan, tidak jauh dari tempat si beruang beristirahat ada seekor badak yang memperhatikannya. Si badak hanya bisa tersenyum melihat tingkah polah si beruang dalam menangkap ikan.
           "Selamat siang, beruang," sapa si badak. "Ada apa kamu menangis sendirian?"
           "Selamat siang," jawab si beruang. "Oooo, nampaknya ada pak Badak. Pak Badak juga ingin menangkap ikan salmon? Iya, Pak Badak...tadinya aku berusaha menangkap ikan tapi ikan salmon itu sulit ditangkap ,Pak. Tubuhnya licin sekali. Huuu..huuu....huuuu"
            "Hohohoho....tahu aja kamu, iya memang tubuh si salmon amat licin. Sulit ditangkap jika tidak menggunakan alat bantu. Tanpa alat bantu maka sampai kapanpun kau menangkapinya pasti tidak akan dapat."
           "Wuahhh....pak Badak kelihatannya tahu benar cara menangkap ikan salmon. Boleh dong aku diajari, Pak."
           Kemudian pak Badak mulai menerangkan tentang kehdupan ikan salmon dan cara bagaimana dengan mudah menangkapinya. Si beruang senang mendengar penjelasan pak Badak.
          "Jadi alat bantunya kuku-kuku tajam itu, Pak?" tanya si beruang "Tapi, aku tidak punya."
          "Iya, beruang. Dengan kuku-kuku tajam Bapak inilah yang memudahkan aku menangkapi ikan salmon itu." jawab pak badak. "Tapi, kamu jangan khawatir. Bapak akan meminjami kuku-kuku ini untuk kamu. Tapi ingat, hanya 3 hari ini saja, ya...."
           Betapa senangnya hati si beruang mendengar bahwa pak badak akan meminjamkan kuku-kuku tajamnya kepadanya. "Aku akan mengumpulkan ikan salmon sebanyakbanyaknya," pikir beruang.
Dan benar juga, setelah si beruang menggunakan kuku-kuku tajamnya ternyata dia dengan mudah menangkapi ikan-ikan salmon yang berenang. Kemana saja ikan salmon menghindar ternyata bisa ditangkapi oleh si beruang. Oleh karena itu, tidak heran apabila dalam sekejap si beruang telah mengumpulkan banyak ikan salmon. "
           "Wah, enak benar menggunakan kuku-kuku tajam ini. Aku bisa dengan mudah menangkapi ikan salmon. Dan, cadangan makananku banyak. Horeeeee....," teriak si beruang. Dan malam harinya si beruang memakan semua ikan hasil tangkapannya sampai habis. "Biar saja kuhabiskan ikan-ikan ini...besok khan aku bisa mencari lagi menggunakan kuku-kuku tajam ini," demikian pikir si beruang.
           Ketika memasuki hari ketiga, si beruang juga telah menangkap ikan salmon dalam jumlah banyak. Kemudian ia memakannya juga semua ikan yang telah ia dapat hari itu. Saat si beruang makan ikan salmon terakhir yang didapatnya hari itu tiba-tiba ia ingat bahwa hari itu adalah hari terakhir. Hari ketiga ia dipinjami kuku-kuku tajamoleh Pak Badak. "Wah, gimana ini? Kalau kuku-kuku tajam ini aku kembalikan ke Pak Badak tentu aku bisa kelaparan lagi dong! Ahhhh...biarlah kuku-kukunya ini aku bawa lari saja."
Dan, malam itu juga si beruang pergi menjauh agar pak Badak tidak bisa menemuinya.
           Pada Hari Ketiga, pak Badak ingin mengambil kuku-kuku tajamnya yang telah dipinjam si beruang. Sejak pagi ia sudah pergi berjalan menuju rumah si beruang. Namun ia heran, sebab si beruang keluar-keluar dari rumahnya. Ketika pak Badak berusaha melongok ke dalam rumah ternyata  si beruang juga tidak ada.  Lalu ia berusaha mencari ke sungai tempat si beruang mencari ikan ternyata tidak ada juga.
          "Huh, kemana si beruang?" tanya pak badak. "Padahal cadangan makanku sudah menipis. Kini kuku tajamku dibawanya juga. Bagaimana aku harus mencari makanan tanpa ada kuku tajam itu."
          Pak badak terus mencari si beruang ke sana kemari, namun tidak diketemukan juga. Sehari, dua hari, tiga hari, sebulan, dua bulan pak badak mencari keberadaan si beruang namun belum ditemukan juga.
         "Uh....ternyata aku telah ditipu oleh si beruang," gerutu pak Badak. "Gara-gara dia, aku kini sudah tidak memiliki kuku-kuku yang tajam lagi. Gara-gara dia aku tidak bisa menikmati ikan salmon lagi. Gara-gara dia aku kini merasa kesulitan mencari makanan. Awas ya, kalau aku bertemu dia maka aku akan membuat perhitungan dengan dia. Aku tidak akan memberi ampun. Akan kulumat dan kurobek-robek mulutnya yang suka berbohong itu."
         Dan sejak saat, itu pak badak kehilangan kuku-kuku tajamnya yang telah dipinjam dan dibawa lari si beruang. Kedua hewan itu akhirnya tidak pernah bertemu lagi. Si beruang selalu menghindar dan pergi menjauh agar tidak sampai bertemu pak Badak.  

 
Toggle Footer
Top