10 Negara Eropa yang menyimpan peninggalan Indonesia (Part I)

1. Denmark
Di antara barang yang sangat hebat itulah terdapat selembar Bendera Atjeh di antara tahun 1850 dan 1900 , bendera itu terlihat bewarna merah dan dihias dengan bulan, bintang dan dua pedang. Bendera itu merupakan barang berarti politik yang mungkin berkaitan dengan perang Belanda (1873-1903).
Atjeh adalah sebuah Bansa yang sudah maju sejak zaman-berzaman dahulu, ini bukan suatu isu atau propaganda murahan tapi ia bisa disaksikan oleh bukti-bukti sejarah, yang tersimpan bagus di Museum-meseum di Eropa.
KMPD ( Komite Monitoring Perdamaian dan Demokrasi ) perwakilan Eropa dan ASF di Denmark berusaha menelusuri kejayan masalalu Atjeh. Hasil usaha KMPD dan ASF membuahkan hasil, Museum Denmark misalnya telah mengantar seratusan Gambar bukti sejarah zaman dulu ke pada Ketua KMPD Eropa melalu perantara yang di gunakannya.
Barang Atjeh zaman dahulu tersimpan di Musem Nasional Denmark (Nationalmusset). Di dalam gedung istana lama yang sangat besar itulah tersimpan seratusan barang Atjeh kuno sebagai salah satu bukti bersejarah.
Tidak kurang 140 barang antik yang sangat indah berasal dari Aceh. Koleksi barang etnografis itu dikumpul oleh penjelajah, pedagang, ahli antropologi atau pelayar yang membawa barang-barang dari Aceh kata Bente Wolff, kepala bagian India, Asia Tenggara dan Oceania di kolleksi etnografis, Museum Nasional di København, kepadaMarie Bjørnager Jensen salah seorang mahasiswa di sebuah Universitas di Denmark jurusan antropologi yang mengambil subjec tentang Atjeh.
Antara barang-barang tersebut adalah selendang dan perisai dari Atjeh itu disebut penjaga museum merupakan barang yang sangat berarti dan unik untuk negara Denmark yang dikasih kepada museum oleh perbendaharaan kerajaan Denmark.
Pisau perak merupakan barang yang paling kunoe, ia di buat pada 1748. Ada juga sebuah tempat rokok, yang dulu diberikan kepada Raja Denmark sebagai hadiah, namun hasil penelusuran KMPD dan ASF yang juga di bantu Marie belum dapat mendeteksi hadiah dari siapa, raja atau saudagar. ”Sangat baik kalau pribumi dari negara asal barang di koleksi etnografis melihatnya dengan mata sendiri”, kata Bente Wolff, kepala bagian India, Asia Tenggara dan Oceania di kolleksi etnografis, Museum Nasional di København.
Melihat barang kuno Aceh di Denmark, jadi kita bisa bayangkan kehidupan orang Aceh 80-200 tahun yang lalu. Selendang dan celana berbenang emas, kain kepala, topi dan kalung, anting-anting dan rem dari perak, batang rokok dan bungkusnya, ada tembakau dan gunting, tikar yang berdesain indah dan penutup makanan dibuat dari daun pisang dan kertas berwarna cerah, lampu berhiasan burung kecil, bisa tahu indahnya didalam rumah Aceh dulu. kepentingan agama seperti kain suci yang terhias dengan desain islam yang di bordir dengan benang perak atau berberapa batu kuburan juga terdapat di mesium ini.
Di antara barang yang sangat hebat itulah terdapat selembar Bendera Atjeh yang di perkirakan di gunakan di antara tahun 1850 dan 1900 , bendera itu terlihat bewarna merah dan dihias dengan bulan, bintang dan dua pedang. Bendera itu merupakan barang berarti politik yang mungkin berkaitan dengan perang Belanda (1873-1903).
Disni terlihat keadaan politik di Aceh dulu yaitu hubungan damai dengan dunia luar, dan era globalisasi sudah di mulai sejak ratusan tahun yang lalu oleh orang Atjeh.

2. Rusia
Gus-Khruystalny - Kilauan aneka macam koleksi benda-benda seni dari kaca dan kristal di Museum Kristal, kota Gus-Khruystalny, Rusia bertambah semarak dipadu dengan koleksi-koleksi karya seni dan budaya Indonesia.
Sekitar 300 jenis benda-benda seni dan budaya Indonesia dipamerkan di museum sejarah yang berjarak sekitar 250 km ke arah timur Moskow.

Pameran mulai 16/2 sampai 15/4/2012 itu untuk memperkenalkan keanekaragaman seni, budaya dan tradisi Indonesia kepada masyarakat kota Gus-Khrustalny, demikian Sekretaris II Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Moskow Enjay Diana kepada detikcom, Senin (26/3/2012).
Kota tua dan bersejarah Gus-Khrustalny, yang didirikan tahun 1756 dan masuk dalam gugusan golden rings Rusia, ini sangat dikenal sebagai kota penghasil barang-barang terbuat dari kaca dan kristal.
Walikota Gus-Khrustalny, Yuri Grishkin menyambut baik penyelenggaraan pameran ini sebagai upaya untuk saling mengenal dan mendekatkan hubungan kedua bangsa. Indonesia yang jauh secara geografis hadir di tengah-tengah masyarakat yang saat ini masih diselimuti cuaca musim dingin.
"Suatu kesempatan sangat berharga bagi masyarakat di sini dapat mengenal keanekaragaman budaya Indonesia melalui pameran ini. Diharapkan kegiatan semacam ini dapat lebih mendekatkan hubungan kedua bangsa kita," ujar walikota Yuri Grishkin.
Para pengunjung dapat melihat berbagai barang seni dan budaya dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Papua.
Kerajinan yang ditampilkan mulai dari ukiran kayu, topeng, patung garuda, patung komodo, keris. Selain itu terdapat pula pakaian daerah, batik, alat-alat musik tradisional, keramik, kaligrafi, peta hingga foto-foto tentang Indonesia.
Menurut Direktur Museum Kristal, Viktoria Ugryumova, antusiasme masyarakat untuk mengenal seni, budaya dan tradisi Indonesia begitu besar. Setiap hari banyak pengunjung datang mulai dari anak-anak hingga orang tua. Dalam empat pekan sejak pembukaan pameran, sudah lebih dari seribu pengunjung yang datang.
"Mereka sangat senang dapat melihat langsung budaya Indonesia di sini. Salah satu yang menarik adalah budaya dan tradisi Papua dimana suku dan peradabannya yang masih terlestarikan," ujar Viktoria Ugryumova.
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Federasi Rusia Djauhari Oratmangun mengatakan budaya dapat menjadi jembatan bagi kelangsungan hubungan kedua bangsa di bidang lainnya, seperti politik, ekonomi dan pariwisata.
"Indonesia dan Rusia merupakan negara besar dan memiliki keanekaragaman seni dan budaya.Jika kedua bangsa dapat mengenal budaya satu sama lain secara dekat akan timbul saling percaya, yang berdampak pada kelangsungan hubungan bidang lainnya," demikian Dubes.

3. Jerman
Koleksi Budaya Indonesia di Museum für Völkerkunde, Museum Etnologi Terbesar di Eropa.
Keberadaan Wayang Klitik dan Keris Sungginan di Museum für Völkerkunde, ternyata bukan satu-satunya benda kebudayaan Indonesia yang tergolong langka. Pihak museum masih menyimpan satu peninggalan kebudayaan tanah air yang boleh dikatakan keramat.
DARI sekitar 14 ribu benda kebudayaan Indonesia di Museum für Völkerkunde, satu yang menarik perhatian. Satu benda itu adalah keris. Ini bukan keris biasa. Si empunya keris diduga kuat adalah Pangeran Diponegoro. Sosok pahlawan nasional asal Jogjakarta yang konon memiliki kesaktian luar biasa. Ya, banyak kabar yang menyebutkan bahwa keris yang digunakan Pangeran Diponegoro berada di Belanda setelah sang pahlawan wafat.
Namun cerita tersebut sepertinya bisa terkoreksi. Sebab, keberadaan keris keramat itu ternyata berada di Austria. Menurut Dr. habil. Jani Kuhnt-Saptodewo selaku Head of Insular Southeast Asian Collections di museum etnologi Wina, pihaknya memiliki keris yang diduga kuat milik Pangeran Diponegoro. Keberadaan keris yang katanya bernama Kyai Omyang ini sudah sejak lama berada di tangan kerajaan Austria.
’’Kalau ada sebagian kalangan sejarah menyebutkan bahwa keris itu dibawa ke Belanda, sepertinya salah. Kami memiliki data tentang keris ini,’’ terang Jani. Lebih dalam dikatakan Jani, mengenai keaslian keris yang panjangnya sekitar 48,7 sentimeter itu masih dalam proses penelitian. Kurator-kurator di Belanda tengah melakukan investigasi tentang asal usul keris yang sangkurnya berlapis emas tersebut. ’’Namun di kalangan kurator Eropa, mereka selalu bilang kalau di museum kami ada keris Diponegoro.

4. Austria
Museum Wina menyimpan banyak barang berharga. Bukan hanya dari Austria, tapi juga dari mancanegara. Termasuk, dari Provinsi Maluku, Indonesia, yang jumlahnya tak sedikit.
Dua orang Maluku datang bersama Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Austria, Triyono Wibowo, dalam acara temu wartawan di Wina, dua hari lalu. Triyono memperkenalkan keduanya sebagai wakil dari Museum Negeri Provinsi Maluku yang meneliti benda-benda Maluku di Museum Wina.
Keduanya juga sempat menyumbangkan suaranya dalam acara tersebut. ''Kami mendapat tugas ke sini selama tiga minggu. Tugas kami meneliti kebenaran barang-barang di Museum Wina yang berasal dari Maluku," kata Jacob Sipahelut, kasie teknis Museum Negeri Provinsi Maluku.
Informasi keberadaan barang dari Maluku itu, ungkap dia, datang dari pihak Austria yang kemudian dilanjutkan ke Pemerintah Republik Indonesia. Mereka menyebutkan ada banyak barang kuno asal Maluku.
Ternyata benar. Bahkan, jumlah benda-benda itu cukup mencengangkan, 1.200 item. ''Jenisnya bermacam-macam. Ada yang bentuk kain hingga patung moyang. Kami sempat kaget juga," kata pria berkumis itu.
Setelah dipastikan berasal dari Maluku, Jacob dan rekannya, Tonci Tuarissa, mendokumentasi dan memastikan asal barang-barang kuno itu. ''Maluku kan ada beberapa tempat. Dan, daerah-daerah itu kadang punya perbedaan dalam jenis barang," kata Jacob.
Barang-barang itu sampai ke Eropa karena dibawa oleh orang Austria, menurut Jacob, bernama Van Howell. Dia datang ke Maluku pada awal 1800-an. Van Howell membawa banyak barang khas Maluku ke Austria dengan kapal. ''Van Howell tampaknya sangat tertarik dengan benda-benda Maluku," kata pria yang punya suara merdu itu.
Sayang, upaya untuk memulangkan kembali barang-barang Maluku itu tak terealisasi. Barang-barang tersebut sudah menjadi milik Museum Wina. ''Sedih juga barang-barang itu ada di sini, bukan di Maluku. Tapi, kita harus menghormati itu," lanjut Jacob.
Meski begitu, keduanya cukup bangga ada benda-benda kuno maluku di Museum Wina. Apalagi, 1.200 benda itu masih terawat dengan baik. Padahal, usianya sudah mencapai 200-an tahun. ''Kalau tetap di Indonesia mungkin barang itu sudah rusak dan tidak ada lagi. Ini yang patut kami hargai," tegas Jacob yang akan melanjutkan peneltiannya ke Belanda bersama Tonci.

5. Spanyol
Indonesia menyumbangkan sebuah alat musik sasando dari Pulau Rote sebagai koleksi Museum Musik Etnik Barranda, Spanyol.Museum ini terletak di kota Caravaca dela Cruz, provinsi Murcia, sekitar 300km dari Madrid.
Sumbangan alat musik petik dari Indonesia Timur itu diserahkan langsung oleh Duta Besar RI untuk Kerajaan Spanyol Adiyatwidi Adiwoso Asmady kepada pemilik merangkap Direktur Museum Carlos Blanco Fadol, demikian keterangan pers Sekretaris III PensosbudKrisnawati Desi Purnawestri kepada detikcom, Senin (8/8/2011).
Disaksikan Walikota Caravaca de la Cruz, Domingo Aranda Muoz dan beberapa pejabat setempat serta pejabat KBRI Madrid, Dubes menyampaikan bahwa sasando yang disumbangkan kepada Museum Musik Etnik ini mempunyai kisah tersendiri.
Menurut Dubes, pada kesempatan pameran pariwisata terbesar di Spanyol, FITUR (Januari 2011), sasando ini dimainkan oleh Nicodemus Tenis di hadapan Ratu Sofia yang tengah berkunjung ke anjungan Indonesia.
“Ratu Sofia terlihat sangat kagum dan sempat bertanya-tanya tentang alat musik unik dan sederhana ini, yang terbuat dari bambu dan daun lontar, namun menghasilkan suara sangat indah,” ujar Dubes.
Museum Musik Etnik Barranda saat ini memiliki koleksi terbesar alat musik dari berbagai belahan dunia. Beberapa alat musik Indonesia yang telah menjadi koleksi Museum ini adalah seperangkat gamelan Jawa, angklung dan kentongan ageng, yakni kentongan tertua dari Jawa Barat.
Gamelan Jawa dan kentongan ageng merupakan koleksi-koleksi utama museum ini. Dengan penambahan sasando ke dalam koleksi museum ini, diharapkan semakin memperkenalkan kekayaan budaya bangsa Indonesia kepada masyarakat Spanyol, khususnya warga Murcia.
Selain menyumbangkan sasando, masih dalam rangkaian kegiatan kebudayaan Indonesia di Murcia, pada kesempatan tersebut Dubes juga meresmikan pembukaan pameran Gamelan Jegog Bali di Gereja Compania de Jesus, Caravaca de la Cruz.
Dalam acara pembukaan tersebut, gamelan jegog yang terbuat dari bambu dimainkan oleh para pemuda dan pemudi Caravaca dengan sangat baik, dipimpin oleh Carlos Blanco Fadol.
Suara gamelan yang menggema keluar dari gereja tua abad ke-16 tersebut telah mengundang masyarakat sekitar dan para turis untuk melihat acara inaugurasi pameran yang akan berlangsung hingga 30/9/2011. Rencananya, gamelan Jegog ini akan dipamerkan di berbagai kota di Murcia secara bergilir.

6. Perancis
Tambur raksasa, alat musik peninggalan dari Sumatera abad keempat sebelum masehi. Kain sarung batik asal Jawa Timur dari tahun 1900. Pakaian adat Asmat awal abad sembilan belas. Patung batu hasil perajin Lombok. Patung ukiran kayu asal pulau Tanimbar, Maluku, hingga perhiasan peninggalan budaya dari Poso, Jawa dan seluruh penjuru tanah air lainnya, di museum Quai Branly, Perancis. Di museum inilah saya bisa menikmati sebanyak 218 benda budaya Indonesia yang begitu indah tertata.
Gedung museum seluas 40.600 meter persegi dengan koleksi terpajang untuk umum sebanyak 3.500 dan sejumlah 300.000 benda berharga masih tersimpan, terdiri dari beberapa bagian, tergantung kepada benda seni itu berasal. Koleksi yang terpajang, adalah berasal dari Afrika, Asia, Oceania dan Amerika.
Setiap benua, memiliki ruangan tersendiri dengan penataan cahaya dan cara memasangnya yang begitu apik, kadang diiringi oleh alunan musik khas daerah itu, semakin menambah khusus menyerapi setiap rinci dari kekayaan suatu benda.
Bagaimana cara menuju ke museum tersebut. Paling mudah memang menggunakan metro, jika tujuannya hanya ke sana. Tapi seperti yang saya pernah tuliskan dalam cerita saya beberapa waktu yang lalu, yaitu pesiar di Paris dengan Batobus. Nah perahu pariwisata ini salah satu pemberhentiannya adalah, Champs-Elysées.

7. Belanda
Pemerintah Indonesia terus berupaya melakukan hubungan diplomasi dengan pemerintah Belanda agar benda-benda bersejarah yang dikoleksi di museum negara itu dikembalikan ke Tanah Air.
"Kita berharap museum di Belanda yang mengkoleksi benda sejarah Indonesia bisa dikembalikan," kata Dirjen Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Hari Untoro Drajat, di Museum Gunarsa Klungkung, Bali, Sabtu.
Di sela-sela kunjungan ke sejumlah museum dan peninggalan purbakala di Bali, ia mengatakan, banyak benda-benda bernilai sejarah menjadi koleksi museum di Belanda yang berasal dari seluruh Nusantara.
Benda itu kebanyakan diambil ketika Belanda menjajah di Indonesia.
"Mereka mendapatkan koleksi itu ketika Pemerintah Kolonial Belanda menjajah di Indonesia yang lamanya mencapai 3,5 abad," katanya.
Waktu itu, kata dia, tidak sedikit benda-benda karya budaya masyarakat diboyong ke negeri kincir angin tersebut. Baik dengan cara merampas pada masa penjajahan atau ada juga membeli dari seorang kolektor.
"Tindakan perampasan benda tersebut ketika kolonial Belanda berkuasa di Indonesia. Jangankan karya seni diboyong, bahkan seluruh kekayaan bumi ini rampas oleh penjajah," kata Hari Untoro yang didampingi Kepala Seksi Kerja Sama Direktorat Museum Dewi Murwaningrum.
Dikatakan, sejumlah benda bernilai sejarah yang selama ini telah dikoleksi di Museum Belanda sudah ada yang dikembalikan ke Indonesia.
"Berkat pendekatan pemerintah kepada museum di Nederland Belanda, beberapa arca dan lontar bernilai sejarah sudah dikembalikan. Namun demikian  tidak semuanya barang tersebut untuk dikembalikan ke sini," ucapnya.
Menurut Hari Untoro, dengan masih tetap dikoleksi di museum tersebut, secara tidak langsung dapat mempromosikan hasil karya anak bangsa Indonesia adiluhung yang sudah ada sejak berabad-abad itu.
"Nantinya kalau warga Belanda atau peneliti di museum tersebut ingin tahu asal benda sejarah itu pasti mereka akan datang ke Indonesia," katanya.
Dengan demikian, kata Hari Untoro, akan menjadi daya tarik wisatawan datang ke Indonesia untuk melihat secara langsung asal mula kebudayaan Nusantara yang menjadi koleksi museum di Belanda.
"Banyak peneliti yang fokus meneliti keberadaan koleksi museum di Belanda datang ke Indonesia untuk mendalami hasil penelitiannya," kata dia.
Oleh karena itu, dengan pemerintah telah mencanangkan tahun kunjungan museum Indonesia atau Visit Museum Indonesia 2010, diharapkan semua warga dapat berkunjung ke tempat penyimpanan benda bernilai sejarah tersebut.

8. Inggris
Di London salah satu museum yang perlu dikunjungi adalah The British Museum. Di sinilah tempat peninggalan sebagian negara-negara jajahan Inggris disimpan. Atau disinilah artefak yang didapat Inggris dari mancanegara dipajang.
peninggalan berasal dari Nusantara ! Ya ternyata di galeri Asia Tenggara ada satu petak peninggalan sejarah Indonesia di British Museum ini. Meskipun hanya satu petak lumayan bisa menyaksikan peninggalan yang langka dan terawat.
Yang terpajang di sana antara lain kepala dan badan Budha. Dalam keteranganya antara lain tertulis bahwa Pulau Jawa di garis equator yang merupakan bagian dari Indonesia modern memiliki sejarah maritim yang panjang.
Ajaran Budha dan Hindu mungkin diperkenalkan dari India selama abad-abad awal Masehi dan dikukuhkan pada abad ke-7. Pengaruh awal ajaran Budha dapat dilacak di India Selatan dan menunjukkan bahwa arsitektur candi pertama. Dari abad ke-9 M kontak dengan India diperlihatkan dengan gaya patungnya.
Dalam keterangannya disebutkan candi terkenal Budha di Pulau Jawa adalah Borobudur yang dibangun pada abad ke-8. Dan kepala Budha ini berasal dari Candi Borobudur. Agama Budha tersebar di Indonesia melalui kontak dagang seperti bisnis rempah-rempah yang sudah terbina dengan kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-1.

9. Vatikan
DUA bersaudara warga Belanda terpesona dengan Borobudur. Siapa yang tidak? Tumpukan batu andesit yang dibangun oleh arsitektur Gunadharma atas perintah Raja Syailendra (750-850) itu memang mengundang decak.
Undakan 10 teras dengan tiga level yang pada dindingnya dipahat relief yang berkisah tentang Siddharta Gautama sebelum mencapai pencerahan sebagai sang bodhisatwa, merupakan karya arsitek yang mengagumkan.
Sempat ditinggalkan dan terkubur selama sembilan abad, bangunan ini kembali muncul berkat upaya penggalian seorang insinyur Belanda HC Cornelius pada 1814. Penggalian itu dilakukan atas instruksi Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles yang mendengar dari penduduk setempat tentang adanya benda purbakala berukuran raksasa di Desa Bumisegoro, Magelang.
Banyak asumsi berkembang tentang mengapa bangunan yang pernah menjadi pusat aktivitas penganut Buddha ini ditinggalkan. Di antaranya karena letusan gunung berapi, perubahan dinasti, dan perpindahan penduduk lokal menjadi Islam. Namun yang pasti di awal 1920-an, pesona yang dipancarkan Borobodur telah membawanya sampai ke Vatikan.
Frans dan Constant Twaalfhonfen, dua kakak beradik berdarah Belanda itu, menduplikasi relief Borobudur dalam 24 molding yang masing-masing berukuran 1,5 meter x 50 cm. Molding-molding ini kemudian diterbangkan ke Vatikan, negara terkecil di dunia di mana Paus, pemimpin tertinggi agama Katolik menjadi kepala negara.
Tak jelas atas inisiatif atau permintaan siapa molding-molding tersebut dibuat. Yang pasti inisiatif Paus Pius XI untuk membuka Museum Etnologi Misionaris Vatikan pada 1926 untuk menampilkan wajah plural dunia, menjadi salah satu alasan kenapa molding-molding tersebut bisa sampai ke Vatikan.
Museum Etnologi ini merupakan bagian dari Museum Vatikan, museum terbesar di dunia, yang didirikan oleh Paus Julius II pada awal abad 16.
Bersamaan dengan datangnya molding-molding ini, ratusan artefak dari berbagai wilayah di Indonesia juga didatangkan. Koleksi Indonesia tertua disumbangkan oleh Uskup Eugene Tisserant (1884-1972), yang terdiri dari 40 patung perunggu yang merepesentasikan dewa Hindu dan Buddha dari abad 8 dan 14.
Dari Jawa, 30 wayang dan layar dengan tiga panel. Ada juga Alquran mini yang berasal dari abad 19. Artefak Kristen diwakili oleh salib yang didekorasi dengan motif Asmat. Dari Kalimantan ada sekitar 300 artefak, kebanyakan yang biasa digunakan untuk ritual agama sehari-hari.
Dari Sumatera dan Nias ada sekitar 50 artefak, termasuk patung-patung para leluhur. Ada juga artefak dari Aceh, Batak, Bugis, Makassar, Toraja, dan suku Kenyah (Kalimantan). Dari Bali ada artefak yang digambar pada lima daun palem yang mengisahkan legenda kisah cinta dan patung singa.
Sekitar tahun 1970-an, relief Borobudur dibuat replikanya dari molding-molding yang dibawa dua bersaudara Belanda itu. Warnanya tak sama dengan relief aslinya yang abu-abu gelap khas batu andesit, tapi kuning atau putih gading.
Menurut Luciano Ermo, mantan staf Museum Vatikan yang terlibat dalam pembuatan replika tersebut, warna kuning itu muncul karena dibuat dengan teknik pewarnaan semen dan oksida besi, mengikuti informasi dari foto-foto yang diterima saat itu.

10. Hungaria
Sebuah pameran topeng Asia dan Oceania dibuka secara resmi pada tanggal 12 Maret 2010 di museum Etnografi Hungaria, Budapest. Mendahului kata-kata sambutan peresmian, sebuah tari topeng dengan diiringi tabuhan musik tradisional Jawa telah diberi kesempatan mengawali upacara pembukaan. Hal ini merupakan penghargaan dan perhatian khusus pihak Hungaria kepada Indonesia.
Pameran ini menampilkan topeng-topeng langka dari negara-negara Asia dan Oceania termasuk Indonesia, Cina, Vietnam, Jepang, Papua Nugini dan lain-lain. Topeng-topeng tersebut terbuat dari emas dan lainnya dari kayu, kulit dan batu-batu lajurit serta giok. Sebagian topeng merupakan koleksi pribadi Dr. Istvan Zelnik.
Dr. Zsigmond Ritok seorang pakar budaya mengemukakan bahwa penggunaan topeng pada dasarnya menyembunyikan banyak hal dari diri pemakai dan yang tampak dari wajah topeng adalah jati diri yang sebenarnya. Cahaya topeng jenazah menampilkan kekuatan yang bersangkutan.
Duta Besar Indonesia, Mangasi Sihombing mengatakan, penggunaan topeng adalah bagian dari kebudayaan tua Indonesia yang hingga kini tetap terpelihara dan hidup dalam masyarakat. Beliau juga menekankan bahwa kekayaan budaya mencerminkan kekayaan alam dan ekonomi yang menjadikan Indonesia sebagai negara dan bangsa yang besar dan akan mencapai kemajuan setara dengan bangsa-bangsa maju lainnya. Karena itu kerjasama dengan Indonesia menjanjikan bagi semua pihak.
Para penabuh musik Jawa yang ambil bagian dalam acara ini adalah Dus Polett untuk gender, Jakab Geza untuk gendang, Kiss Marta untuk suling, Szilagy Peter untuk rebab serta Shinto Dery sebagai sinden. Penari tunggal adalah Gergye Krisztian. Selain Shinto, mereka adalah peserta beasiswa Darmasiswa beberapa tahun silam di Indonesia. Krisztian saat ini telah menjadi koreografer ternama Hungaria dan pernah meraih Choreographer of the Year Hungaria. Kiss Marta adalah pengarang dan meniti karir sebagai pelukis yang semakin menanjak. Dus Polett aktif memimpin band yang selalu mengkombinasikan musik tradisional Indonesia dengan musik modern. 


source:

bilamana terdapat kesalahn dalam artikel ini, mohon diralat, terima kasih

Related Posts

Sejarah
Pasuruan Bloggers
10 Negara Eropa yang menyimpan peninggalan Indonesia (Part I)
By Pasuruan Bloggers
Published: 2013-01-19T23:58:00-08:00
10 Negara Eropa yang menyimpan peninggalan Indonesia (Part I)
5 30 reviews
10 Negara Eropa yang menyimpan peninggalan Indonesia (Part I)
Posted by:Pasuruan Bloggers Updated at: 23.58